Kenapa horor Indonesia lebih menakutkan
This post is in Indonesian.

Jawaban singkat: Horor Indonesia terasa lebih menakutkan karena penontonnya sudah tahu aturannya sebelum film dimulai. Pocong, kuntilanak, dan genderuwo datang dari cerita nenek, bukan ruang penulis, jadi film tidak perlu membangun kepercayaan dari nol. Gelombang baru, seperti Pengabdi Setan (2017), lalu mematahkan janji lama bahwa doa selalu menyelamatkan.
Setiap film horor Hollywood dimulai dengan masalah yang sama: penontonnya belum percaya pada monsternya. Jadi film itu harus membangun kepercayaan dari nol. Aturannya, sejarahnya, alasan kenapa kamu harus takut. Biasanya itu memakan sebagian besar babak pertama.
Film horor Indonesia mulai dari tempat lain. Ia punya sesuatu yang tidak bisa dibeli Hollywood: penonton yang sudah tahu aturannya.
Utas yang jadi rekor
Pada Agustus 2019, akun anonim di Twitter bernama SimpleMan mulai bercerita. Enam mahasiswa, sebuah desa terpencil di tengah hutan Jawa, dan seorang penari yang seharusnya tidak ada di sana. Akun itu mengklaim semuanya benar-benar terjadi. Tagarnya naik ke posisi nomor satu.
Tiga tahun kemudian kisah itu menjadi film, KKN di Desa Penari, dan memecahkan rekor box office sepanjang masa di Indonesia dengan 10.061.033 penonton. Lalu cerita-cerita mulai keluar dari bioskop. Video seorang penonton yang ditonton hampir tiga juta kali mengklaim sebuah pemutaran harus dihentikan karena ada penonton yang kesurupan.
Tidak ada yang bisa membuktikannya. Yang penting justru ini: di Indonesia, banyak orang tidak sulit memercayainya.
Hantu tetangga sebelah
Semua orang tahu pocong, mayat yang terperangkap dalam kain kafannya karena talinya tidak pernah dilepas. Semua orang tahu kuntilanak, hantu perempuan yang meninggal saat melahirkan; saat tawanya terdengar jauh, dia justru ada di sebelahmu. Semua orang tahu genderuwo, makhluk besar yang tinggal di pohon tua dan rumah kosong.
Mereka bukan monster ciptaan ruang penulis. Mereka berasal dari cerita nenek, tantangan di halaman sekolah, dan jalan pulang yang gelap. Ketika satu muncul di layar, filmnya tidak perlu memperkenalkannya. Cukup mengingatkan.
Rumahnya adalah monster
Pada 2017, Joko Anwar membuat ulang film horor klasik tahun 1980 dari studio yang sama, Rapi Films: Pengabdi Setan. Premisnya sederhana. Keluarga yang kehabisan uang, seorang nenek, rumah jauh dari kota, dan seorang ibu yang bertahun-tahun sakit di ranjang. Saat butuh anak-anaknya, dia membunyikan lonceng kecil. Lalu dia meninggal, dan loncengnya terus berbunyi.
Hantunya bukan inti cerita. Yang diserang adalah semua yang menopang keluarga itu: rumah yang tidak sanggup mereka tinggalkan, orang tua yang wajib dirawat anak-anaknya, anak sulung yang harus dewasa terlalu cepat. Kamu mungkin tidak percaya hantu. Tapi kamu tahu rasanya berutang sesuatu kepada ibumu.
Saat doa tidak mempan
Untuk paham kenapa remake itu mengena, lihat bagaimana versi aslinya berakhir. Pada 1980, horor Indonesia hidup di bawah Orde Baru dan sensornya. Tidak ada undang-undang yang mengharuskan film horor berakhir dengan tokoh agama yang menyelamatkan keadaan, tapi para produser percaya badan sensor mengharapkannya. Sebagian kemudian mengaku menulis kyai di akhir cerita hanya agar filmnya lolos.
Rumusnya pun terbentuk: teror, kekacauan, kyai datang, ayat dibacakan, monster terbakar, ketertiban pulih. Pengabdi Setan 1980 berakhir persis begitu. Versi 2017 tidak. Pada malam kedua, ustad keluarga itu berjaga di rumah, dan orang-orang mati tetap datang menjemputnya.
Selama puluhan tahun horor Indonesia menjanjikan satu hal: percayalah, berdoalah, dan kamu akan selamat. Gelombang baru mematahkan janji itu. Bagi penonton yang tumbuh bersamanya, tidak ada yang lebih menakutkan daripada doa yang tidak bekerja.
Dari Suzzanna ke streaming
Rumus kyai itu milik masa keemasan pertama horor Indonesia, dan terutama milik Suzzanna. Dari Beranak dalam Kubur (1971), Sundel Bolong (1981), sampai Malam Satu Suro (1988), dia memerankan perempuan teraniaya yang kembali. Saat dia wafat pada 2008, The Jakarta Post menyebutnya ratu horor Indonesia.
Lalu industrinya nyaris mati. Televisi swasta hadir pada 1989, Hollywood mengambil layar, pembajakan mengambil sisanya. Dari lebih dari seratus film di awal 1990-an, produksi merosot jadi beberapa puluh dalam tiga tahun. Sepanjang 1998 dan 1999, hanya delapan film Indonesia yang tayang di bioskop.
Kebangkitannya butuh bertahun-tahun. Ketika Pengabdi Setan menjadi hit besar pada 2017, pintu air terbuka. Pada 2023 dan 2024, lebih dari separuh tiket film Indonesia yang terjual adalah untuk film horor, dan film-film itu mulai berkelana: ke Sundance, ke layanan streaming, ke penggemar horor di seluruh dunia.
Empat hal yang bisa dicuri setiap pembuat film
- Pakai aturan yang sudah dibawa penontonmu. Setiap budaya punya hantu, takhayul, dan larangan setelah gelap sendiri. Aturan yang spesifik mengalahkan aturan karangan.
- Biarkan keheningan dan bunyi nyata bekerja. Lonceng, gamelan di tengah hutan, pintu yang menutup di kamar sebelah. Bunyi yang hidup di dalam dunia cerita lebih menakutkan daripada sengatan musik apa pun.
- Bangun ketakutan pelan-pelan. Film-film ini tidak takut membuatmu menunggu, karena di dalam penantian itulah kepercayaan tumbuh.
- Pertaruhkan keluarga. Hantu bisa membunuh satu tokoh. Hantu yang menghancurkan keluarga menghancurkan sesuatu yang dimiliki penonton.
Horor Hollywood bertanya: bagaimana kalau ini nyata? Horor Indonesia bertanya sesuatu yang lebih buruk: bagaimana kalau kamu benar, sejak awal?
Fakta kunci
- Utas SimpleMan mulai diunggah di Twitter pada Agustus 2019; filmnya rilis tiga tahun kemudian.
- KKN di Desa Penari (2022) ditonton 10.061.033 orang, rekor sepanjang masa di Indonesia saat itu.
- Pengabdi Setan (2017) karya Joko Anwar adalah remake film 1980 dari studio yang sama, Rapi Films.
- Sepanjang 1998 dan 1999 hanya delapan film Indonesia tayang di bioskop.
- Pada 2023 dan 2024, lebih dari separuh tiket film Indonesia yang terjual adalah untuk film horor.
Sumber
- CNN Indonesia: KKN di Desa Penari tembus 10 juta penonton
- Kompas TV: utas SimpleMan dan filmnya
- Suara.com: klaim viral pemutaran yang dihentikan
- Wikipedia: Satan's Slaves sebagai remake film 1980
- Katinka van Heeren (2007): horor Orde Baru dan akhir cerita kyai
- GNFI: produser yang menulis kyai ke dalam cerita
- The Jakarta Post: produksi film 1990-an
- Merah Putih: delapan film pada 1998–1999
- France 24 / AFP: porsi tiket film horor
- ABC: box office horor 2023
- The Jakarta Post: obituari Suzzanna
Film yang dibahas: KKN di Desa Penari (2022, MD Pictures) · Satan's Slaves / Pengabdi Setan (2017, Rapi Films) · Pengabdi Setan (1980, Rapi Films) · Satan's Slaves 2: Communion (2022, Rapi Films) · Impetigore (2019) · Suzzanna: Buried Alive (2018, Soraya Intercine Films) · Beranak dalam Kubur (1971) · Malam Satu Suro (1988, Soraya Intercine Films) · Suzzanna: The Queen of Black Magic (Severin Films). Semua hak milik pemiliknya masing-masing.
Fixinema adalah perusahaan film dari Indonesia, berkarya sejak 2017, dan pembuat Fixinema Studio, alat previs berbasis browser (beta).